Sekapur Sirih

Hai. . .

Hari ini menjadi hari istimewa bagiku. Di hari ini rasanya aku mendadak jadi orang penting dan intelektual dengan mempunyai sebuah blog sendiri.

he..he..he.. dimulai dengan kebingungan mau diisi apa blog ini,(sst tadinya sekedar iseng, pembuktian bahwa membuat blog itu mudah). Terbukti bahwa membuat blog memang tidak sulit. Mengisi dan mengatur blog yang sudah ada itu jauh lebih sulit. Sampai detik ketikan ini dibuat, aku belum tahu mau bagaimana mengisi dan mengatur blog ini. . .

Perkenalkan aku seorang ibu rumah tangga biasa, dengan dua orang anak laki-laki.
Hobiku mendengarkan musik, nonton film, dan something else yang berjenis hiburan dan tidak bikin stress.
Melalui blog ini, aku ingin mencoba mengembangkan kemampuanku menulis, dengan harapan setidaknya dapat menyalurkan emosi yang terkadang berbahaya jika diendapkan atau dikeluarkan dengan membabibuta.

Akhirnya, harapanku adalah jika kalian membaca ini, kalian akan dibuat penasaran dan ingin mencoba membuat blog juga. He..he..he.. jujur, sebenarnya aku juga ingin tulisanku ini mendatangkan manfaat bagi orang lain, sebanyak-banyaknya yang diperlukan atau diinginkan.

Keep smile
Wiet.

Jumat, 07 September 2012

Birunya hati 4

"Van, jadikan ikut aku ke pasar?" Rianti dengan senyum manisnya beranjak masuk ke warung setelah menyenderkan sepeda mininya. Sambil meneruskan mengikat rambutku, aku membalas senyumnya dan berkata,"Jadi dong. Boleh kan Bu?" kutengok ibu yang sedang menyeduh kopi untuk Kang Yanto...Sekilas aku melihat tatapan kang Yanto seakan hendak menelanku. Aku bergidik dan cepat-cepat menundukkan wajah.
"Iya, asal kamu harus berhati-hati dan cepat pulang. Ibu takut kamu sakit lagi atau malah pingsan di pasar."
 "Ah..Ibu, memang mau upacara, pake pingsan segala...", aku menjawab dan segera bangun dari dudukku. Sebenarnya aku ingin memandang dandananku di cermin kecil, tapi adanya Kang Yanto membuatku gugup dan tidak nyaman. Semenjak kepergian Andy, aku merasa Kang Yanto selalu mengikutiku...setiap ada kesempatan aku selalu berpapasan dengannya. Di pasar, di terminal, dan di warung terlebih lagi. Ibu sepertinya tahu, tapi tak ada alasan untuk melarangnya bukan?
 Kuselipkan cermin kecil ke saku jaketku. Dan setelah sekedar berbasa-basi dengan pengunjung warung sebentar, aku dan Rianti pamit pergi ke pasar.

 Rianti mulai mengayuh awal sepedanya, dan aku segera membonceng di belakang. Sengaja aku memandang warung ibuku, dan benar terkaanku, Kang Yanto juga keluar dari warung. Tapi dia tidak menatapku, langsung ke arah rumahnya. Ah...aku merasa nyaman karenanya.
"Van, kenapa sih mukamu terlihat pucat? Dan kamu seminggu ini sudah 2 kali ijin sakit. Kamu tidak takut ketinggalan pelajaran? Sebentar lagi kita ujian nasional lho? Tidak takut kamu?"
Aku terkekeh kecil...,"Tenang Rianti, aku tetap belajar kok walaupun tidak masuk sekolah. Jadi aku yakin, aku pasti bisa sukses di ujian nasional nanti."
 "Iya deh...kamu kan memang nomer satu Van...tapi nanti jangan pelit kasih contekan ya.." , sepeda berguncang kecil saat aku mencubit pinggang Rianti atas ucapannya itu.
"Maunya ye. . .. ."

Wartel "Azizah" yang kumasuki terlihat banyak pengunjung, bilik2 teleponnya terlihat berpenghuni semua, sampai di bilik ujung, ternyata ada juga orangnya. Aku berjalan lagi ke meja kasir sekalian penjaga wartel, "Mas, penuh semua. Aku tunggu di sini ya."
 Si mas penunggu wartel menatap dan menganggukkan kepalanya kepadaku, " Sini Dik, duduk aja di sini", dia menunjukkan kursi kosong di sebelahnya.
Aku mengucap terimakasih dan beranjak hendak duduk di situ, ketika pintu bilik satu membuka dan penghuninya keluar. Aku tersenyum pada bapak yang keluar dari bilik itu, dan bilang pada Mas penjaga aku pakai bilik satu.

 Dengan agak gemetar, aku memencet satu persatu nomer telepon rumah paman Andy di Jakarta. Sambil terus mencocokkannya dengan kertas yang baru tadi pagi kudapatkan dari Heru temen akrab Andy yang dengan wanti-wanti berkata,"Jangan katakan pada Andy darimana kamu dapatkan nomer ini." Terus terang aku agak takut dan heran dengan ekspresi Heru tadi pagi. Sengaja aku telepon hari Minggu dengan harapan Andy bisa menerima telponku.
 "Hallo, selamat pagi bisa bicara dengan Andy?"
 "Pagi, maaf ini dari siapa ya?", suara ramah wanita dari seberang menyapaku.
"Ini Vanya teman Andy dari Rawa Pening."
 "Oh Dik Vanya, Andy sudah pergi dari tadi pagi ke rumah Tina. Ada pesan? Sepertinya pulangnya bakalan malam, maklum lagi mesra-mesranya pacaran."
 Deg! Suara ramah itu berubah menjadi guntur. Aku terdiam entah berapa lama. "Halo...halo...Dik Vanya ? Masih di situ?"
 "Mmmm..mmma..maaf Bu. Kertas catatan saya jatuh tadi. Oh iya katakan saja ada telepon dari Vanya. Terimakasih." Cepat-cepat kututup gagang telpon. Aku bersusah payah mengambil nafas, rasanya sesak dan mual, aku membuka pintu bilik, berharap Rianti sudah ada di sana. Aku kepayahan mencari oksigen...setiap langkah seakan tidak berdasar...dan langkah selanjutnya membawaku dalam kegelapan total.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar