Sekapur Sirih

Hai. . .

Hari ini menjadi hari istimewa bagiku. Di hari ini rasanya aku mendadak jadi orang penting dan intelektual dengan mempunyai sebuah blog sendiri.

he..he..he.. dimulai dengan kebingungan mau diisi apa blog ini,(sst tadinya sekedar iseng, pembuktian bahwa membuat blog itu mudah). Terbukti bahwa membuat blog memang tidak sulit. Mengisi dan mengatur blog yang sudah ada itu jauh lebih sulit. Sampai detik ketikan ini dibuat, aku belum tahu mau bagaimana mengisi dan mengatur blog ini. . .

Perkenalkan aku seorang ibu rumah tangga biasa, dengan dua orang anak laki-laki.
Hobiku mendengarkan musik, nonton film, dan something else yang berjenis hiburan dan tidak bikin stress.
Melalui blog ini, aku ingin mencoba mengembangkan kemampuanku menulis, dengan harapan setidaknya dapat menyalurkan emosi yang terkadang berbahaya jika diendapkan atau dikeluarkan dengan membabibuta.

Akhirnya, harapanku adalah jika kalian membaca ini, kalian akan dibuat penasaran dan ingin mencoba membuat blog juga. He..he..he.. jujur, sebenarnya aku juga ingin tulisanku ini mendatangkan manfaat bagi orang lain, sebanyak-banyaknya yang diperlukan atau diinginkan.

Keep smile
Wiet.

Kamis, 01 September 2016

SATU EPISODE KEHIDUPAN

SATU EPISODE KEHIDUPAN

Sang waktu berjalan perlahan-lahan. Melewati lorong gelap gang Rambutan, tempat abang-abang ojeg mangkal. Sepanjang lorong temaram diterangi lampu-lampu bohlam depan rumah. Lampu neon pun tak dapat memamerkan terangnya. Mendung dini hari lebih berkuasa. Jalanan lenggang, masih pulas belum disinggahi pelanggannya. Dari lubang ventilasi sang waktu merayap masuk ke sebuah rumah sederhana.
Janah, perempuan paruh baya itu sedang mengadoni bahan-bahan gorengan dagangannya. Janah harus bergegas sebab jam dinding sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Ditinggalkannya adonan bakwan, beralih ke kukusan pepes tahu. Dengan cekatan, pepes-pepes tahu yang sudah terbungkus rapi itu, disusun ke dalam langseng. Uap yang subur saat penutup langseng dibuka menandakan bahwa langseng sudah siap digunakan untuk mengukus.
Janah potret keliatan seorang wanita, Ibu dari Ayunda dan Dimas itu kokoh menjadi single parent, semenjak ditinggal suami tercinta kawin lagi. Cerai adalah kata-kata tabu dan sangat sulit dilakukan bagi umat Katholik, harus melibatkan Uskup dan Paus untuk dapat dikatakan resmi bercerai. Janah merelakan statusnya menggantung di udara.
Janah manis dengan tubuh mungil, bukan mustahil baginya mendapatkan suami lagi. Pasar kaget di mana setiap pagi Janah mangkal menjajakan dagangannya cukup ramai. Dan tidak sedikit pria-pria seumuran yang tahu statusnya mencoba menggoda. Tapi sudah tiga tahun pisah rumah dengan suami, tidak ada tanda-tanda Janah menjalin hubungan dengan pria lagi. Hatinya sudah bertekad dan fokus untuk membesarkan anak-anak saja.
Alarm handphone berdering. Pukul 05.00. Janah berjalan ke kamar depan. Perlahan dibukanya kamar Ayunda, gadis 10  tahun itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Lembut Janah mengusap kening anak gadis itu, “ Bangun yuk. Temani mama menyiapkan sarapan.”
Setetes peluh Janah menetes ke dahi Ayunda. Mata yang kembali terpejam itu membuka lagi. “Iya Ma…” Janah tersenyum menghapus peluhnya. Sudah 3 tahun kehidupan seperti ini dijalani. Bukan waktu yang sebentar, dan Janah semakin mahir. Anak lelakinya Dimas, sudah terbiasa bangun pagi sendiri. Dimas merasa menjadi kepala keluarga dalam keluarga kecil ini. Waktu Janah kembali ke dapur, dilhatnya Dimas sedang mengangkat gorengan pisang yang tadi ditinggal Janah membangunkan Ayunda.
Ya Tuhan, Engkau berikan kecukupan pada kehidupan kami yang sederhana, dan Engkau berikan anak-anak yang  luar biasa. Nikmat yang tidak akan tergantikan dengan harta manapun. Janah menengadah ke langit-langit rumah. Dan sebaris air mata luruh mengiring rasa syukur pada Tuhannya.
Sang waktu tersenyum puas menatap Janah. Lihat betapa aku sudah mampu mengubah bocah kekanak-kanakan yang hanya bisa menuntut dan menuntut itu menjadi perempuan kuat dan penuh rasa syukur. Butuh waktu 30 tahun untuk memprosesnya. Melibatkan banyak rasa pahit dalam pembentukkannya. Sang Waktu mempercepat langkahnya. Melayang ke atas, menumpang mega. Di bawahnya semilir angin menggoyang pucuk-pucuk dedaunan, melambai mengucapkan sayonara.
Elisa begitu cantik dengan tahi lalat di pucuk hidung bangirnya. Matanya bersinar menggambarkan kegairahan dalam menyambut hari-hari. Alis matanya hitam lebat membentuk payung  untuk kedua kelopak mata. Dan bibir itu, , seringkali membentuk senyum ajaib yang menyempurnakan keindahan raut wajahnya.  Sekali lagi Elisa menatap wajah ayunya di depan cermin, mendetail setiap bagian sampai ke hal-hal yang kecil…Ah kenapa juga ada jerawat di bawah bibir? Kembali disapunya bagian itu dengan alas bedak, berharap jerawat kecil itu mau bersembunyi di bawahnya. Mulutnya mencerucut dan hidungnya agak mengkerut. Bahkan untuk pose seperti itu Elisa menjadi makin cantik saja.
Sang waktu tersenyum menatap Elisa, lihatlah aku sudah mengubah seorang bocah kecil lusuh, kusam, pemalu yang untuk maju mengerjakan tugas saja harus bersama-sama, menjadi wanita yang cantik dan lebih percaya diri.
Joni suami Elisa masih asyik memainkan HP di depan TV yang dibiarkan menyala menyiarkan berita pagi dari stasiun TV swasta.  Anak-anak sudah berangkat ke sekolah masing-masing. Elisa sudah cantik dan rapi . Jam menunjukkan pukul 06.45. “Mas, aku berangkat duluan ya. Mungkin nanti pulang agak malam. Mau meeting dengan klien.” Elisa menunduk dan mencium kening Joni yang tidak bergeming dari layar HPnya.  Hanya dehem saja yang terdengar lirih. Dan Elisa sudah terbiasa. Walau tak urung sekilas senyum pasrah tersungging yang segera digantikannya.
Hari-hari yang sepi, suami pendiam yang jarang mengajak berkomunikasi. Terlebih sering pulang pagi dengan seribu satu alasan basi. Sekarang hal itu bukan masalah besar lagi. Elisa tersenyum, sudah seminggu hari-hari menjadi  lebih berwarna. Perjumpaannya dengan teman SMA, Erns sudah mengubah dunianya 180 derajat.
Berawal dari diterimanya undangan pertemanan Erns di laman Facebooknya. Elisa mengunjungi laman Facebook Erns, melihat foto-fotonya. Istri Erns manis berhijab, mereka sudah dikarunia tiga orang putra yang gagah-gagah. Elisa melihat Erns-Erns kecil di tiap-tiap wajah juniornya. Bahkan yang paling kecilpun, batita (bawah tiga tahun) seperti melihat fotokopian sang papanya saja.
 Saling melihat laman masing-masing dirasa tidak mencukupi. Kopi darat sambil makan siang menjadi kelanjutannya. Di kursi pojok restoran itali dalam sebuah mal, Elisa bertemu Erns. Jabat tangan yang terjadi seperti mengalirkan energi listrik antar keduanya.  Elisa terperangah pada sensasi itu. Erns masih segagah dulu, tatapan matanya yang teduh membuat Elisa betah menatap Erns berlama-lama. Dan herannya Erns seperti tahu dan sengaja mengulang tatapan teduhnya itu. Kata-kata menjadi tidak menarik lagi. Berdua mereka saling menatap dan bercengkrama lewat mata.
“ Sudah lama kamu kerja sebagai sekretaris di sini Lis?” Elisa cepat-cepat menelan potongan pizzanya. 
“ Baru dua tahun. Kamu sendiri bagaimana?”
“ Sudah tiga tahun aku merintis usahaku sendiri. Lebih nyaman daripada bekerja pada orang lain.”
“ Iya memang seperti itu.”
Hasil gambar
Elisa menumpukkan garpu di atas pisau pizzanya perlahan.  Matanya kembali menatap wajah Erns yang tengah menatapnya juga. Elisa melemparkan senyum manis,  matanya tak melepaskan wajah Erns.
Itu awalnya dan seminggu semenjak pertemuan itu, tak seharipun terlewat tanpa komunikasi lewat WhatsApp, BBM, maupun telepon. Elisa begitu menikmati hari-harinya. Malam-malam menanti kepulangan suami yang sunyi berubah menjadi malam-malam penuh canda dan manja.
Dan hari ini Erns mengajaknya keluar makan siang. Elisa janji akan menemuinya di counter J’co donnuts mal Pondok Indah.  Laptop sudah di shutdown. Map-map berisi surat-surat hari ini sudah ditumpuk rapi. Bolpoint, pensil, stappler sudah di tempatnya masing-masing.  Elisa melirik jam tangannya. Pukul 11.45. Di cangkingnya tas tangannya kemudian beranjak meninggalkan ruangan kantor.
Saat menuruni tangga Elisa berpapasan dengan Heru staff administrasi , “ Her, nanti kalau Mba Rifka datang, bilangin saya keluar makan siang dan sekalian pulang ya. Ada keperluan keluarga.” Heru manggut-manggut, “ Oke Mba Lisa.” Rifka adalah manajer Tax and Accounting di perusahaan tempat Elisa bekerja. Ruangan mereka bersebelahan dan hanya dibatasi sekat kaca. Elisa dan Rifka terbiasa saling menyapa dan saling memberi tanda dari tempat duduk mereka.
Siang itu mal tak seramai biasanya. Jalanan lebih lenggang, di setiap toko Elisa melihat pramuwisma saling mengobrol dengan leluasa.  Apakah ini karena efek tengah bulan atau mulai terasanya kebijakan pengetatan ikat pinggang oleh pemerintah. Elisa menggelengkan kepalanya.
Sampai di counter J’co, Elisa langsung mengenali sosok tegar Erns dengan segera. Erns tengah asyik memainkan HP nya. Dan di meja sudah tersedia dua gelas minuman dan dua potong donut. Dengan tetap menunduk dan mengetik, Erns berucap,” Silakan duduk Elisa sayang, coffee late pesanan sudah siap.” Elisa duduk di depan Erns. Di angkatnya gelas kopi, harum kopi membuat mata Elisa menutup untuk sejenak menikmati. Dan saat ia membuka mata, ternyata  mata teduh itu sedang menatapnya. Elisa tersenyum membiarkan mata mereka berbicara.
Sang waktu sedang bercanda dengan takdir. Masing-masing melempar ilmu andalannya. Adalah takdir membawa Elisa bertemu dengan Erns kembali. Sang Waktu memfasilitasi dengan berbagai kesempatan pertemuan demi pertemuan. Sebulan berlalu dari sekedar makan siang, berlanjut jalan-jalan, menonton dan chatting dari pagi sampai menjelang tidur malam. Selama itu Erns melimpahi Elisa dengan candaan, pujian, dan perhatian.
“ Elisa, kalau seandainya nanti Tuhan berkehendak, pastilah kita bisa bersatu. Maukah kau saat itu menjadi istriku?” Elisa tercekat membaca pesan WA tengah malam Erns. “Aku tahu ini salah. Dan aku tidak akan menambah kesalahan itu dengan melangkah lebih jauh Lis. Aku mencintai istriku. Aku juga mencintaimu.”
“Erns sayang, tanpamu hari-hariku sunyi dan hampa. Engkau mengisi kekosongan hidupku. Menggenggam tanganmu aku menjadi berani. Tapi kita sudah berkeluarga. Aku mencintai keluargaku dan tak akan pernah mau menjadi istri keduamu. Aku percaya Tuhan Maha Kuasa, tetapi untuk kita bersatu butuh suatu keajaiban saja. Jadikan aku temanmu, kita tetap bisa makan berdua, jalan-jalan, menonton, tapi puaskanlah hasratmu padaku hanya sebatas menggenggam tanganku saja.”
Elisa menatap layar HPnya. Diam tidak ada perubahan. Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ketika 30 menit berlalu tanpa pesan masuk dari Erns, Elisa mulai memejamkan mata. Egoiskan aku tak ingin kehilangan canda dan manja dari Erns? Tapi aku tak mampu menjanjikan apapun untuknya. Aih waktu….berbalik arahlah agar aku dapat mengoreksi masa perjumpaanku dulu dengannya.
Elisa terbangun pukul 01.30. Rupanya Joni baru sampai. Masih terdengar bunyi mesin mobil dimatikan. Elisa membuka pintu kamar, berjalan ke depan untuk membuka depan. “ Mas sudah makan? Mau dibuatkan apa?”
“Tidak perlu. Tidur lagi saja. Aku sudah makan.”  Joni melewati Elisa, yang masih berdiri dekat pintu. Menaruh tas di ruangan belakang, kemudian kembali ke kursi depan. HP dicharge dan dibuka kembali.
“Cepatlah mandi dan temani aku sebentar sebelum tidur.” Elisa merajuk.
“ Iya, baru pulang. Masih panas. “
“AC mobil mati?”
“ Tidak”
“Kenapa panas?”
“ Kamu mancing ribut. Pegang nih langsung keringetan!” Joni menarik tangan Elisa.
“ Baiklah, aku tunggu di kamar ya.” Elisa menarik lepas tanggannya.
Dan seperti biasanya Elisa akan sukses tertidur dengan TV menyala. Malam itu mimpinya dihiasi tatapan teduh Erns yang mengejar jawab pertanyaannya. “Jadilah istri keduaku Lis. Atas nama cinta aku pasti dapat berlaku adil untuk kalian berdua. Bidadari-bidadariku.”
Sabtu pagi saat berbelanja di pasar kaget dekat rumah, Elisa menuju ke penjual gorengan di ujung gang.  “Janah, apa kabar?” Elisa menyapa Janah yang sedang menggoreng bakwan jagung. Dipilihnya beberapa gorengan yang sudah matang ke dalam kantong plastik.
“Eh Lis, kemana aja? Beda ya orang kantoran. Jarang turun ke pasar,” jawab Janah sambil terus membalik-balik gorengannya. “Tahu tidak Oma Ratri dirawat di RS Fatmawati. Kena kanker payudara dia. Sebentar aku tunjukkan fotonya.” Janah menaruh susuk ke atas serok di atas baki minyak. Diusap-usapkannya keduatangannya ke celemek. Kemudian mengeluarkan HP dari kantong bajunya.
“ Nih lihat, sudah sebulan ternyata Oma dirawat di sana.” Elisa menerima HP Janah.
Ya Tuhan, Oma Ratrikah itu? Begitu kurus, dengan mulut dan hidung tertutup masker oksigen. Kalau saja Janah tidak memberi tahu di awal, Elisa merasa tidak akan mengenali sosok tersenyum di balik masker itu sebagai Oma Ratri.
“Yuk kita pergi tengok dia. Kita ajakin Yeni, Wilda, dan Retno. Eh tahu tidak kalau Lidia sudah cerai dari suaminya dan sekarang sedang hamil dengan suami keduanya?” Janah asyik menuturkan semua info yang sudah masuk ke kepalanya. Elisa kadang tertawa kadang merengut mendengar cerita Janah. Sudah lama ternyata dia tidak turun ke pasar. Sudah ketinggalan banyak berita.
Diam-diam Elisa mengagumi Janah dengan semua kekuatannya. Single parent tanpa suami katanya juga tidak ada jatah uang bulanan, namun toh Janah tetap bisa tetap menyekolahkan anak-anaknya. Tentu saja bantuan memang ada dari saudara-saudara Janah yang mampu. Tetapi sebagai seorang wanita, Elisa sendiri tidak yakin akan mampu bersikap seperti Janah jika dihadapkan pada persoalan yang sama. Tulari aku dengan kekuatanmu Janah, begitu batin Elisa.
WA Erns diterima Janah pada siang hari. Erns mengajak bertemu saat makan siang Senin nanti. Elisa mengiyakan. Dan karenanya Elisa sibuk menyusun acara. Semoga Bos belum balik dari luar kota. Semoga Bos memberi ijin pulang cepat untuknya. Tapi alasan apa lagi ya? Satu kali berdusta, maka akan ada dusta-dusta susulan untuk melengkapinya.
Sang Waktu melambat, Sabtu dan Minggu terasa lama sekali. Elisa dilanda kebosanan menanti hari menjadi Senin pagi. Ah sudah rindu rasanya menatap mata teduh itu lagi. Mendengar kata-kata yang mengayomi langsung dari bibir Erns. Bukan sekedar ketikan di WA atau BBM.
Senin siang, Bos ada di ruangannya, tapi sebentar lagi akan jalan keluar meeting dengan pelanggan di luar kantor. “ Elisa, kalau ada telepon, bilang saya sedang meeting dengan Tuan Hardiman ya,” ujarnya sambil berjalan meninggalkan ruangannya.
“ Maaf Pak, saya siang ini harus pulang cepat. Saya merasa kurang sehat,” jawab Elisa sambil menunduk.
“ Ow…kamu sakit? Okelah kamu istirahat saja dulu di rumah. Kalau perlu ke dokter. Usahakan besok masuk ya. Ada meeting di kantor,” sambung Bos. “ Rifka kamu handle telpon masuk untuk saya ya.” Rifka yang kebetulan baru melintas dari toilet  manggut-manggut mengiyakan. Elisa meliriknya, Rifka memanyunkan bibir dan hidung ke arahnya.  “Pisss” Dua jari Elisa membentuk tanda V. Untung Bos sudah berlalu. Elisa menghembuskan nafas lega.
Makan siang itu, Erns tidak banyak berkata-kata. Tatapan teduhnya masih sama. Menghipnotis Elisa untuk terus menatapnya juga. Suap demi suap berlalu dalam diam sampai sendok dan garpu diletakkan dengan posisi menutup menyilang.
“ Elisa. Aku sudah fikirkan masak-masak hubungan kita,” Erns memulai kalimatnya. Elisa tersenyum, diam dan terus menatap Erns. “Aku merasa tidak bisa meneruskan hubungan dengan tidak ada kepastian. Hidupku dibayang-bayangi rasa tidak tenang.”
Deg. Muka Elisa memucat. Sedapat mungkin Elisa menahan gejolak-gejolak perasaannya. Perutnya tiba-tiba melilit, dan dingin mulai menjalar naik dari kaki terus sampai ujung jari jemari tangannya. Di depannya Erns terlihat menanti-nanti reaksi Elisa. Mata teduhnya memuat banyak tanya dan kekhawatiran.
“ Maafkan aku Erns. Aku sudah membawa kita pada situasi semacam ini. Terimakasih untuk semuanya tapi sudah jangan bicara lagi.” Lirih suara Elisa menggema aneh di telinganya. Itukah suaraku? Elisa merasa kedua matanya panas. Tidak…tak boleh setetespun jatuh saat ini. Elisa segera mengakhiri pertemuan makan siang itu tanpa jabat tangan.
“Aku tidak akan mengotori tanganmu dengan jabat tangan kita lagi Erns. Mungkin bagimu aku hanya kotoran yang akan menajiskan semua sholat, sedekah, dan zikirmu,” bisik batin Elisa. Sepanjang perjalanan pulang, di dalam taksi online, Eliska sukses menangis diam. Terkadang supir taksi melirik dengan tatapan heran. Oh sudahlah apa perdulimu Pak…jalanlah saja lurus ke depan. Antar aku pulang. Kembalikan aku pada kehidupanku. Tempat bertapaku dalam diam. Tempat waktu akan menimpaku dengan lebih kejam.
Malam itu, tepat pukul 00.00. Sang Waktu duduk di kursi depan Eliska. Menatap wajah sendu di depannya. Jangan khawatirkan lukamu Nak. Aku akan membalutnya dengan selendang maya. Kain sutrapun tak dapat menandingi kelembutannya. Dinginnya akan menyejukkanmu. Saat sepi menyergap ingatlah, aku ada. Sepi hanya akan sementara, dan aku lebih berkuasa.
Elisa tahu Erns di sana tidak akan terjangkau olehnya. Namun kecintaan membawanya menitip doa pada El Shaddai. “Ampuni kalau aku mengisi waktu dengan melukai orang-orang yang kucintai dan bahkan diriku sendiri ya Bapa. Jagalah mereka yang tidak dapat kujaga secara jasmani di sana. Dan mampukan aku berbuat yang terbaik untuk keluargaku sebagaimana Yesus sudah mengurbankan diri Nya sendiri untuk menebus dosaku. Amin.”
Elisa mematikan lampu kamar, menyelimuti dirinya. Dan mulai terpejam. Saat itu sepasang tangan kokoh membawanya dalam pelukannya. Elisa berbisik lirih “Terimakasih.” Dan tetes itu kembali mengalir dalam gelap. Elisa balas memeluk suaminya….

Pamulang, 02 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar