Note of the Weekend : Weekend Asyik di Bandung dan Sekitarnya
Jumat, 28 Oktober 2016, hari itu seharusnya masih jam rapat Call for Paper untuk Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi S1 Universitas Pamulang. Layar handphone memperlihatkan adanya beberapa kali panggilan tak terjawab dari suami. Aku sudah mengatakan akan pulang jam 15.00 WIB dari rapat. Tapi seperti biasa, rapat molor dari yang sudah direncanakan. Belum ada tanda-tanda Ketua akan mengakhiri rapat. Setelah ijin untuk tidak meneruskan rapat di pukul 14.55 WIB, dengan tergesa namun semangat aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat Harry suamiku sudah mulai memasukkan tas-tas ransel berisi yang baju-baju, handuk, perlengkapan mandi dan tidur masing-masing, yakni punyaku Harry, Deo, dan Dennis. Kami berencana liburan ke Bandung selama dua hari ke depan. Mengejar waktu agar tidak bersamaan dengan jam bubar kantor, kuputuskan tidak mandi sore itu. Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami menunggu Deo putra pertama kami pulang dari sekolahnya di daerah Muncul, Serpong. Deo berjanji pulang cepat dan kami sudah membekalinya dengan surat ijin untuk mengikuti pelajaran setengah hari saja. Harry mulai terlihat tidak sabar, beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Deo yang rupanya tidak tersambung, sampai aku melihat ada pesan whatsapp di layar HPku. Dari Deo,yang mengatakan dia sebentar lagi sampai rumah.
Seperti membenarkan prediksi kami, yang berangkat pukul 16.10 WIB dari rumah daerah Pamulang (Deo ngotot mesti mandi dulu), maka bermacetlah kami mulai dari tol Ulujami sampai tol Kampung Rambutan. Untungnya hujan sepanjang jalan sore itu mengurai udara panas menjadi kesejukan yang romantis. Aku tidak peduli apakah kami salah waktu atau tidak pergi ke Bandung pada musin hujan begini, saat ini mataku terpuaskan memandang dedaunan hijau basah memerkan kesegaran dan kemudaannya. Sementara lagu-lagu dari sebuah stasiun radio yang diputar membuatku ikut menyanyi bersama penyanyinya. What a nice time!
Pukul 18.23 WIB kami masih terjebak macet di Tol Lingkar Luar Timur, sudah tidak terelakkan lagi bubaran jam kantor. Jalan tol padat dan sudah bukan merayap lagi, ngesot mungkin…Dan hujan romantis sudah menjadi malam mendung tanpa bintang. Kami masuk tol Jakarta Cikampek pukul 19.07 WIB, perut sudah mulai keruyukan minta diisi. Terbayang sudah makan di The Valley, Lembang, melayang terbang.
Pukul 20.00 kami masuk Rest Area KM 57. Kupusatkan perhatianku pada nama-nama tempat makan dan menu yang terbaca dari balik jendela kaca mobil. Banyak pilihan malah membuat bingung, akhirnya sesuai kesepatanku dengan anak-anak dan suami, kami memutuskan makan malam di Rice Bowl. Kupilih paket menu yang ada, sayang walau menunya enak-enak, nasi putihnya terkesan belum cukup matang. Karena lapar, semua hidangan tandas. Setelah cukup beristirahat, kami meneruskan perjalanan ke Bandung, kali ini tujuannya bukan lagi The Valley, tapi langsung ke vila yang sudah disewa kantor Harry di daerah Dago Pakar, Vila Hill View.
Pemandangan dari atas vila Hill View, tempat kami menginap yang cukup cerah di pagi hari.
Sampai di Vila Hill View setelah melewati jalanan yang naik turun cukup curam, sudah pukul 23.00 WIB. Dan saat itu hujan gerimis. Ingin rasanya langsung merebahkan diri tidur, tapi kupaksakan diri untuk mandi. Untung ada air hangat, aku mandi cepat-cepat, tapi begitu kran air hangat aku matikan, langsung saja udara dingin menerobos masuk. Malam itu rencana membuka laptop untuk E-Learning menjawab diskusi mahasiswa juga ikut melayang. Terlena kehangatan sleeping bag yang aku bawa dari rumah untuk mengantisipasi kekurangan selimut. What a warm and comfort thing!
Keesokan harinya kita menuju ke Tree Top Adventure Park, Cikole Lembang. Jalanan masuk dari Vila Hill View ke jalan utama yang semalam lumayan menyeramkan turunannya, di pagi hari menjadi lebih bersahabat. Mungkin karena semalam turunan dan sekarang menanjak. Yang pasti asyik banget pemandangannya juga medannya. Terbukti sepanjang jalan keluar dari vila ke jalan utama, kami banyak berpapasan dengan pengendara sepeda lengkap dengan asesorinya (helm, baju dan celana pendek ketat, kacamata, dan lain-lain). Aku menikmati ekspresi para pengendara saat menempuh “tanjakan ngos-ngosan” dan “turunan senang”.
Suasana di Tree Top Adventure Park, Bandung yang menantang.
Sampai di Tree Top setelah mengurus administrasi dan mengenakan perangkat keamanan standar untuk outbond, kami dibekali dulu ilmu menggunakan peralatan outbond pengaman oleh petugas yang ada di tempat. Apa saja sih yang kita pakai saat outbond? Berikut beberapa benda yang kami pakai sebagai alat dan juga pengaman saat melakukan outbond:
- Wire, adalah kabel baja sebagai jalur lintasan saat melakukan aktivitas outbond
- Seat Harness/ Full Body Harness, ini alat pengaman tubuh dari ikatan-ikatan tali
- Carabiner , sebagai pengaman yang menghubungkan kami dengan tali. Kami dibekali dengan dua buah carabiner, dan saat berpindah medan, minimal satu buah carabiner harus terkait di wire demi keselamatan kita. Ingat ya guys…jangan melepas dua buah carabiner sekaligus.
- Pulley Fix, ini sebagai katrol untuk alat bantu meluncur diatas wire.
Setelah pengarahan selesai, kami diberi kesempatan melakukan uji coba terlebih dahulu untuk melatih buka tutup dan memasang baik carabiner maupun pulley fix. Nah saat uji coba ini saja, aku sudah mulai gemetaran yakni saat melakukan aktifitas berjalan di seutas kawat baja. Kawat sepanjang 10 meteran itu jadi seperti sepanjang 100 meter saja. Tapi untuk aktifitas flying fox, wah ini sih aktifitas yang menyenangkan bagiku.
Ada 6 jenis sirkuit di Tree Top Bandung, yang dinamai dengan nama-nama warna yakni 2 buah yellow circuit, 1 buah green circuit, 2 buah blue circuit, 1 buah orange circuit, 1 buah red circuit, dan 1 buah sirkuit paling merangsang adrenalin yakni black circuit. Masing-masing sirkuit dibedakan dengan tingkat ketinggian, macam tantangan, dan panjang jalur luncur yang berbeda-beda. Ketinggian mulai dari 2 meter sampai dengan 20 meter dari atas tanah, sedangkan panjang jalur luncur terpanjang ada di black circuit sepanjang 135 m.
Mau tahu tantangan yang paling merangsang adrenalin? Dialah Tarzan Jump. Yakni kita melompat dengan berpegangan pada tali, boleh sambil teriak “auouo……..” ala tarzan, kemudian ada saat yang tepat, melepas pegangan kita dari tali dan memegang jaring laba-laba diseberang yang sudah terpampang untuk melalui tahap berikutnya. Wow…jaring laba-laba bagiku adalah tantangan yang cukup berat. Rasa pegal di tangan 4 hari baru terasa menghilang setelah menyelesaikan tantangan ini di Orange Circuit. Dan dari 12 orang peserta outbond rombongan kami, hanya Dennis yang berhasil melakukannya dan berhasil menyelesaikan black circuit. Proud of you son!
Aku baru saja menyelesaikan blue circuit, ketika hujan mulai turun dan membubarkan aktifitas outbond. Iya aku akui, kami memilih saat yang kurang tepat untuk berakhir pekan di Bandung, saat musim hujan dan beberapa daerah di Bandung terlanda banjir. Tetapi lumayan juga sudah dua sirkuit aku lintasi, sedang beberapa teman rombongan yang lain memilih menghemat waktu langsung menuju black circuit dengan hasil hampir semua gagal di Tarzan Jump. “Hem…rugi khan tidak seluncuran flying fox sebanyak yang kulakukan” pikirku dalam hati saja.
Waktu menunjukkan 14.00 kami baru makan siang di Saung Pengkolan 2, menu nasi timbel komplit jadi pilihan kami, dengan minum teh tawar hangat, pas dengan suasana hujan yang sedang-sedang saja. Selesai makan aku menuju pintu luar saung, ada beberapa penjual cinderamata seperti kaos, dompet dan tas rajut, serta pernik-pernik perhiasan lainnya. Tidak ada salahnya berbagi rejeki sambil memuaskan mata melihat-lihat barang di sana bukan? Akhirnya aku membeli dua buah tas rajut dan sebuah dompet rajut yang nantinya satu di antaranya kuberikan sebagai cindera mata buat mama tersayang.
Sore sekitar pukul 15.00 kami menuju vila tempat menginap dengan membatalkan tujuan selanjutnya yakni Farmhouse Bandung karena hujan yang terus mengguyur. Sengaja kami mengambil jalur alternatif ke vila, yakni jalan Cijeruk daerah Dago Punclut, dengan rute yang lebih menantang, naik turun cukup curam dan di ujung malahan jalanan rusak dengan lubang-lubang lumayan besar. Tapi semua itu terbayarkan dengan pemandangan eksotis sepanjang jalan dengan gunung, lembah, dan perumahan nun jauh di sana, walau sedikit tertutup kabut karena suasana masih gerimis. Alhasil dari lima buah mobil rombongan, kami tiba sebagai yang pertama. Tak mau membuang-buang waktu, aku langsung menuju kamar mandi. Pengalaman yang mandi belakangan tidak kebagian air hangat…Ha..ha..Maaf ya…yang lebih muda.
Malamnya kami makan malam romantis di Lisung The Dago Boutique Resto Bandung, yang mana kebanyakan menu yang tersedia saat itu bercita rasa Eropa. Karena masih kenyang, aku berbagi pesanan dengan Linda, kami memesan 1 buah Zuppa Soup, 1 porsi Tuna Salad, dan 1 porsi fitter happier pancake, yakni pancake dengan one scope ice cream lezat dan ada saos sirupnya juga. Minum aku cukupkan dengan mineral water saja, dan itu sudah cukup mengenyangkan. Terutama aku kenyang dengan suasana yang cukup romantis dengan iringan musik akustik dan suara penyanyi wanita yang cukup merdu dan fasih menirukan cengkok Raisha dalam lagu “Kali Kedua.”
Aku memandang lautan permata di salah satu sudut Lisung The Dago Boutique Resto nan eksotis.
Di Lisung, aku dan Linda berburu spot-spot bagus untuk berselfie ria. Dan beberapa gambar berhasil kudapatkan dan aku puas dengan hasilnya. Makan malam di Lisung adalah makan malam romantis bertabur bintang nun di bawah sana. Bintang-bintang berasal dari ratusan bahkan ribuan lampu dari perumahan yang dapat kami nikmati dari tempat duduk kami di Lisung. Tak puas-puasnya kutatap hamparan lautan bintang di bawah sana sambil mengucap puji dan syukur pada yang di atas.
Minggu pagi, kami sempatkan untuk berburu tempat asyik lainnya di Bandung. Kafe D’Pakar menjadi tujuan kami. Jalanan ke kafe lumayan menantang, naik, turun cukup curam, dan kami kembali sering berpapasan dengan banyak pengendara sepeda. Karena jalanan cukup sempit, dan udara cukup sejuk, kami putuskan mematikan AC, dan membuka jendela sambil mengucap salam kepada para pengendara sepeda yang kami lewati. Wah banyak juga bapak-bapak berambut belang, putih hitam dan berambut putih yang bersepeda ria…Semangat sekali mengayuhnya walau saat tanjakan ngos-ngosan, mereka menyerah, turun dari sepeda dan menuntunnya. “ Permisi Pak…” “ Mangga Neng…” Wah senangnya dipanggil neng…terasa lebih muda berpuluh tahun.
Pemandangan Café D’Pakar pagi hari sebelum hujan memaksa kami lari ke area indoor.
Sayang sekali aku harus terburu-buru menghabiskan Taro Milk Shake pesanan karena kembali hujan membubarkan kami. Sebelumnya udara begitu cerah cenderung panas, saat kuputuskan memesan minuman dingin dan kami memilih tempat duduk outdoor . Untuk mendapatkan tempat duduk outdoor itu kami melalui waiting list karena weekend dan banyak peminat. Tidak kusangka cuaca begitu mendadak berganti, mendung tak berapa lama, dilanjut hujan yang lumayan deras. Belum puas mataku menatap ke hamparan hijau pemandangan pegunungan. Hiks…
Dari Café D’Pakar, kami menuju jalan Pasir Kaliki untuk makan siang. Karena Bumbu Desa masih ramai dan waiting list, kami berbelanja oleh-oleh lebih dulu di Prima Rasa. Aku memilih brownies panggang rasa almond, blueberry, rhum raisin, serta brownies kukus coklatnya. Dan yang tak disangka, aku menemukan kue bingka di sana. Kue khas Banjarmasin Kalimantan Selatan, yang memang sudah lama aku ingin kembali menyantapnya. Langsung saja aku ambil satu dan masuk ke keranjang belanjaan.
Puas berbelanja oleh-oleh, aku menyeberang dan menuju Restoran Bumbu Desa. Di sini menu andalanku adalah Ayam Cabe Hijau dan Tumis Jamur, sayang sekali aku kehabisan Tumis Jamurnya, okelah karena sudah pukul 14.00 dan perut lapar, habislah ayam cabe hijau, nasi dan teman-teman lalapannya.
Tepat pukul 15.30 kami selesai makan siang dan siap lanjut perjalanan kembali pulang ke Jakarta. Setelah saling mengucap salam, kami berpisah menuju kendaraan kami masing-masing. Demikianlah catatan akhir pekanku selama dua hari di Bandung kali ini. Sampai jumpa di Note of the Weekend ku selanjutnya ya….Tetap Senyum dan Semangat.
Pamulang, 04 November 2016