KEMENANGANKU
Pukul 04.00, 24 Juni 2014. Seperti biasa
kamar gelap, udara sedang dingin-dinginnya dengan temperatur 200 C.
Alarm handphone berdering nyaring. Setelah mematikan alarm,
aku bergegas turun untuk mandi. Tidak susah untuk bangun pagi kali ini, ada
euforia magis yang membuatku semalaman tidur dalam keinginan cepat-cepat pagi
lagi. Ya, hari ini aku diwisuda. Gelar S1 akan segera kusandang setelah empat
tahun menjadi mahasiswi di program studi Akuntansi Universitas Pamulang
(Unpam). Cepat-cepat aku mandi tanpa menghiraukan air dingin yang menggigilkan.
Telepon rumah berdering. Mandi dipercepat.
Berbalut handuk segera ku angkat telepon, “ Halo….oh iya Jen, aku sudah mandi. Oke
kamu sudah di depan kan? Ok, aku
buka pintu.” Telepon ku letakkan kembali ke tempatnya.
Jener sepupu Harry (suamiku) sudah datang.
Dia sempat kursus merias di salon kenamaan milik penata rias wajah dan rambut
terkenal Peter F.Saerang .Alih-alih menjadi seorang perias, dia bekerja sebagai manajer Finance and Tax di sebuah perusahaan
properti. Bersyukur sekali Jener mau meluangkan waktu untuk datang pagi-pagi
buta mendandaniku, untuk itu aku menjanjikannya makan siang minggu depan
sekalian syukuran atas kelulusanku.
Sewaktu Jener mulai membuka peralatan
riasnya, aku duduk diam menunggu. Teringat kembali pertanyaan teman “Kamu
kuliah lagi? Kamu akan diwisuda saat umur 40 tahun. Sudah tua Wiet.” . Waktu
itu aku tersenyum, “ Yang penting jadi sarjana.”
Rupanya senyumku sampai ke indera Jener “
Ada apa? Geli ya?” dia menghentikan sapuan bedak ke leherku. “Enggak…penasaran
aja seperti apa rupaku nanti.” Jener melanjutkan gerakannya.
Siang hari kira-kira pukul 10.00 WIB 4
(empat) tahun silam, Harry, suamiku belum beranjak dari depan laptopnya.
Anak-anak tentu saja masih berada di sekolah sampai pukul 13.30 siang nanti.
Pekerjaan rumah tangga sudah sebagian besar selesai. Aku baru saja
menyelesaikan sapuan pel terakhir di lantai dapur, menghapus kerlip cipratan
minyak bekas menggoreng ayam tadi. Kulirik Harry yang masih fokus pada
laptopnya. Aku sudah berniat, kali ini harus berani mengatakannya, makin lama
makin banyak waktu tersia. Aku berjingkat sepelan mungkin. Harry tetap fokus
pada layar monitor. Kukalungkan kedua tanganku ke lehernya, masih saja matanya
menatap layar laptop. Tapi aku sudah
bertekad harus disampaikan. “Ngun, aku mau kuliah.” bisikku lirih di
telinganya.
Harry tipe pendiam yang jauh dari kesan
romantis. Dia baru saja mencoba mendirikan kantor konsultan pajak bersama
dengan teman-temannya. Setelah sebelumnya bekerja sebagai manager accounting di pabrik plywood,
yang akhirnya tutup. Sebagian besar karyawan termasuk Harry kehilangan
pekerjaan tanpa pesangon. Kami pernah mengalami masa-masa kesulitan keuangan,
membuatku ingin mendapat bekal lebih jika suatu saat harus mencari kerja. Aku
tahu permintaan kuliah lagi berarti menambah pengeluaran. Sudah kusiapkan
mental andaikan tidak diperbolehkan saat itu. Besok coba lagi. Tapi tidak
begitu kejadiannya. Harry menatapku, “Kalau sudah mulai, harus sampai lulus.” Dan
siang itu adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di gedung B Unpam untuk
mendaftar. Sebulan kemudian, Harry resmi beristrikan mahasiswi.
Gedung Auditorium Unpam nampak lebih gagah
daripada biasanya. Selempang banner ucapan selamat atas wisudawan dan
wisudawati angkatan XIV melintang menyelimuti tembok lantai III. Rangkaian
bunga, boneka, serta cindera mata para
pedagang yang sibuk menjajakan dagangan mereka. Simponi kehidupan di luar
gedung auditorium yang dicoba direkam oleh para fotografer dadakan. Mereka berlarian
mendahului para wisudawan untuk dapat memfoto mereka. Aku melangkah
cepat-cepat, Harry dan mamaku ikut jalan cepat-cepat. Semakin lambat jalan,
semakin banyak foto yang bisa mereka dapatkan dan itu berarti pemborosan. Sampai
di depan pintu masuk, aku dipersilakan masuk pintu sebelah kanan sedangkan Harry
dan mamaku masuk pintu di sebelah kiri untuk para undangan.
Di dalam ruangan kelas tempat kami
menunggu, aku bertemu Dewi, Ami, Bunga, dan Wilda. Teman karibku Winda dan Beti
ada di ruangan sebelah. Kulirik sebentar jam di tangan : 06.49. Masih ada waktu
sebentar. Kulangkahkan kaki ke ruangan sebelah. Ya kulihat Beti dan Winda sedang
sibuk memasang toga. ”Mba Wiet….!” Mereka menjerit-jerit kecil menyambutku. Kami
berangkulan, haru bisa bersamaan menyelesaikan kuliah. Rupanya gerakan itu
membuat togaku miring. Kami saling membantu berbenah. Kami terus tertawa
mengenang masa-masa indah, lucu sekaligus masa-masa susah. ”Yuk…siap-siap
bentar lagi nih.” Waktu menunjukkan pukul 07.15.
Acara demi acara prosesi wisuda aku ikuti
dengan serius. Kami wisudawan mendapatkan tempat di bagian depan sampai
kira-kira setengah isi auditorium. Sisanya bagian belakang dan balkon atas
diperuntukkan untuk keluarga wisudawan. H. Darsono, Ketua Yayasan Sasmita Jaya,
pemilik Unpam, sosok yang rendah hati, mengisahkan
Unpam pada masa awal, hanya ada dua orang siswa, sehingga jika satu menjadi
ranking satu maka yang lainnya akan menjadi ranking kedua. Seisi auditorium
tertawa. Suasana resmi mencair dan menghangat.
Layar besar di depan menampilkan gambar
Pak Dar dengan latar gedung sekolah SMEA Sasmita Jaya. Waktu itu gedung SMEAnya
masih menumpang tanah orang. Tapi lihatlah Unpam sekarang, dengan mahasiswa
yang sudah mencapai puluhan ribu, gedung kampus yang cukup bagus, bahkan sedang
dibangun kampus II di daerah Viktor. Unpam sedang berlari mencapai tujuannya mewujudkan suatu sarana pendidikan yang murah dan
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa melupakan kualitas dari
pendidikan itu sendiri.
Melihat Pak Dar bertutur di depan podium,
ingatanku melayang ke almarhum papa….Ah, seandainya Papa masih hidup….kuberikan
semua kebanggaan ini untuknya, bahwa anaknya yang setua ini tapi masih mau belajar.
Selanjutnya giliran Rektor H. Dayat
Hidayat memberikan kuliah umum sebagai bekal masuk ke dunia kerja. Sekalipun
sudah lulus, begitu pesannya jangan pernah melupakan asal usul kita. “Unpam
biarpun universitas yang murah tapi bukan murahan. Alumni Unpam mampu bersaing
dan memberikan potensi SDM yang tidak ketinggalan dibandingkan universitas
yang lebih dulu ada.”
Aku menatap sekeliling. Kucari wajah suami
dan mamaku di antara kerumunan orang. Tatapanku kadang menemukan tatap-tatap
lain yang mungkin sama mencari sosok yang mereka kenal. Aku tersenyum dan
merekapun tersenyum. Auditorium penuh sesak. Warna hitam mendominasi dengan selempang
yang berwarna warni menandakan asal program studi masing-masing. Aku sendiri
berselempang warna kuning dari program studi Akuntansi S1, dan cukup banyak
kulihat warna kuning di antara warna-warni lainnya. Di atas balkon kutemui wajah Harry. Kebetulan
dia sedang menatapku. Kuberikan senyum manis untuknya. Terimakasih sayang, kau
berikan kesempatan ini untukku. Kesempatan yang semestinya diberikan kedua
orang tuaku yang dengan keterbatasan tidak dapat diberikan. Maaf mama papa
bukan aku menyesali dan menyalahkan kalian, tetapi keerhasilan menyelesaikan
kuliah ini membuat terimakasihku pada Harry bertambah. Dan di sebelahnya
kulihat wajah ayu mamaku, juga menyungging senyum. Kadang mama juga merasa
bersalah, karena tidak dapat menguliahkanku. Begitu mama pernah bercerita. Tak
mengapa Mama, lihatlah kini putrimu dapat meraihnya.
Tiba giliran Wakil Rektor II, Subarto
membacakan siapa-siapa yang berhak menyandang gelar lulusan terbaik.
Detik-detik melambat. Suara Subarto menjadi seperti bergaung waktu menyebut namaku
sebagai lulusan terbaik prodi Akuntansi Wisuda XIV tahun 2014. Aku maju. Sayup
kudengar gemuruh tepuk tangan
teman-teman wisudawan. Rasa haru begitu hangat. Kalau tak kuingat begitu
banyak pasang mata menatap, dan kamera mengarah kami para wisudawan untuk menampilkannya
pada layar besar, mungkin sudah runtuh bedeng air mataku. Sekali lagi teringat
almarhum papa. Kami berfoto dan entah secara kebetulan Pak Rektor memilih
berdiri di sebelahku.
Piagam itu hidup dalam sejarahku. Di dalamnya terukir masa-masa manis
persahabatan, senda gurau, sekaligus masa-masa sedih. Masa-masa berat
perjuangan menghafal, memahami rumus-rumus bagi otak yang sudah lama dilenakan
irama hidup ibu rumah tangga menjadi
sesuatu yang memang berharga untuk dilakukan. Perjuangan menulis skripsi diperberat
dengan hilangnya laptop. Data-data yang belum sempat dibackup termasuk data
skripsi ikut raib bersamanya. Malam-malam lemburku bercanda dan menggelitiki
keypad , membolak balik buku, semua
terlunasi. Piagam ini adalah titik akhir sekaligus titik awal
perjuanganku seterusnya.
Pamulang, 08 Agustus 2016
Thanks to Budi S. untuk ilmu menulisnya....
