Sekapur Sirih

Hai. . .

Hari ini menjadi hari istimewa bagiku. Di hari ini rasanya aku mendadak jadi orang penting dan intelektual dengan mempunyai sebuah blog sendiri.

he..he..he.. dimulai dengan kebingungan mau diisi apa blog ini,(sst tadinya sekedar iseng, pembuktian bahwa membuat blog itu mudah). Terbukti bahwa membuat blog memang tidak sulit. Mengisi dan mengatur blog yang sudah ada itu jauh lebih sulit. Sampai detik ketikan ini dibuat, aku belum tahu mau bagaimana mengisi dan mengatur blog ini. . .

Perkenalkan aku seorang ibu rumah tangga biasa, dengan dua orang anak laki-laki.
Hobiku mendengarkan musik, nonton film, dan something else yang berjenis hiburan dan tidak bikin stress.
Melalui blog ini, aku ingin mencoba mengembangkan kemampuanku menulis, dengan harapan setidaknya dapat menyalurkan emosi yang terkadang berbahaya jika diendapkan atau dikeluarkan dengan membabibuta.

Akhirnya, harapanku adalah jika kalian membaca ini, kalian akan dibuat penasaran dan ingin mencoba membuat blog juga. He..he..he.. jujur, sebenarnya aku juga ingin tulisanku ini mendatangkan manfaat bagi orang lain, sebanyak-banyaknya yang diperlukan atau diinginkan.

Keep smile
Wiet.

Senin, 08 Agustus 2016

KEMENANGANKU


KEMENANGANKU



Pukul 04.00, 24 Juni 2014. Seperti biasa kamar gelap, udara sedang dingin-dinginnya dengan temperatur 200 C. Alarm handphone  berdering nyaring. Setelah mematikan alarm, aku bergegas turun untuk mandi. Tidak susah untuk bangun pagi kali ini, ada euforia magis yang membuatku semalaman tidur dalam keinginan cepat-cepat pagi lagi. Ya, hari ini aku diwisuda. Gelar S1 akan segera kusandang setelah empat tahun menjadi mahasiswi di program studi Akuntansi Universitas Pamulang (Unpam). Cepat-cepat aku mandi tanpa menghiraukan air dingin yang menggigilkan.
Telepon rumah berdering. Mandi dipercepat. Berbalut handuk segera ku angkat telepon, “ Halo….oh iya Jen, aku sudah mandi.  Oke  kamu sudah di depan kan?  Ok, aku buka pintu.” Telepon ku letakkan kembali ke tempatnya.
Jener sepupu Harry (suamiku) sudah datang. Dia sempat kursus merias di salon kenamaan milik penata rias wajah dan rambut terkenal Peter F.Saerang .Alih-alih menjadi seorang perias,  dia bekerja sebagai manajer Finance and Tax di sebuah perusahaan properti. Bersyukur sekali Jener mau meluangkan waktu untuk datang pagi-pagi buta mendandaniku, untuk itu aku menjanjikannya makan siang minggu depan sekalian syukuran atas kelulusanku.
Sewaktu Jener mulai membuka peralatan riasnya, aku duduk diam menunggu. Teringat kembali pertanyaan teman “Kamu kuliah lagi? Kamu akan diwisuda saat umur 40 tahun. Sudah tua Wiet.” . Waktu itu aku tersenyum, “ Yang penting jadi sarjana.”
Rupanya senyumku sampai ke indera Jener “ Ada apa? Geli ya?” dia menghentikan sapuan bedak ke leherku. “Enggak…penasaran aja seperti apa rupaku nanti.” Jener melanjutkan gerakannya.
Siang hari kira-kira pukul 10.00 WIB 4 (empat) tahun silam, Harry, suamiku belum beranjak dari depan laptopnya. Anak-anak tentu saja masih berada di sekolah sampai pukul 13.30 siang nanti. Pekerjaan rumah tangga sudah sebagian besar selesai. Aku baru saja menyelesaikan sapuan pel terakhir di lantai dapur, menghapus kerlip cipratan minyak bekas menggoreng ayam tadi. Kulirik Harry yang masih fokus pada laptopnya. Aku sudah berniat, kali ini harus berani mengatakannya, makin lama makin banyak waktu tersia. Aku berjingkat sepelan mungkin. Harry tetap fokus pada layar monitor. Kukalungkan kedua tanganku ke lehernya, masih saja matanya menatap layar laptop.  Tapi aku sudah bertekad harus disampaikan. “Ngun, aku mau kuliah.” bisikku lirih di telinganya.
Harry tipe pendiam yang jauh dari kesan romantis. Dia baru saja mencoba mendirikan kantor konsultan pajak bersama dengan teman-temannya. Setelah sebelumnya bekerja sebagai manager accounting di pabrik plywood, yang akhirnya tutup. Sebagian besar karyawan termasuk Harry kehilangan pekerjaan tanpa pesangon. Kami pernah mengalami masa-masa kesulitan keuangan, membuatku ingin mendapat bekal lebih jika suatu saat harus mencari kerja. Aku tahu permintaan kuliah lagi berarti menambah pengeluaran. Sudah kusiapkan mental andaikan tidak diperbolehkan saat itu. Besok coba lagi. Tapi tidak begitu kejadiannya. Harry menatapku, “Kalau sudah mulai, harus sampai lulus.” Dan siang itu adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di gedung B Unpam untuk mendaftar. Sebulan kemudian, Harry resmi beristrikan mahasiswi.
Gedung Auditorium Unpam nampak lebih gagah daripada biasanya. Selempang banner ucapan selamat atas wisudawan dan wisudawati angkatan XIV melintang menyelimuti tembok lantai III. Rangkaian bunga, boneka, serta cindera mata  para pedagang yang sibuk menjajakan dagangan mereka. Simponi kehidupan di luar gedung auditorium yang dicoba direkam oleh para fotografer dadakan. Mereka berlarian mendahului para wisudawan untuk dapat memfoto mereka. Aku melangkah cepat-cepat, Harry dan mamaku ikut jalan cepat-cepat. Semakin lambat jalan, semakin banyak foto yang bisa mereka dapatkan dan itu berarti pemborosan. Sampai di depan pintu masuk, aku dipersilakan masuk pintu sebelah kanan sedangkan Harry dan mamaku masuk pintu di sebelah kiri untuk para undangan.  
Di dalam ruangan kelas tempat kami menunggu, aku bertemu Dewi, Ami, Bunga, dan Wilda. Teman karibku Winda dan Beti ada di ruangan sebelah. Kulirik sebentar jam di tangan : 06.49. Masih ada waktu sebentar. Kulangkahkan kaki ke ruangan sebelah. Ya kulihat Beti dan Winda sedang sibuk memasang toga. ”Mba Wiet….!” Mereka menjerit-jerit kecil menyambutku. Kami berangkulan, haru bisa bersamaan menyelesaikan kuliah. Rupanya gerakan itu membuat togaku miring. Kami saling membantu berbenah. Kami terus tertawa mengenang masa-masa indah, lucu sekaligus masa-masa susah. ”Yuk…siap-siap bentar lagi nih.” Waktu menunjukkan pukul 07.15.
Acara demi acara prosesi wisuda aku ikuti dengan serius. Kami wisudawan mendapatkan tempat di bagian depan sampai kira-kira setengah isi auditorium. Sisanya bagian belakang dan balkon atas diperuntukkan untuk keluarga wisudawan. H. Darsono, Ketua Yayasan Sasmita Jaya, pemilik Unpam, sosok yang rendah hati, mengisahkan Unpam pada masa awal, hanya ada dua orang siswa, sehingga jika satu menjadi ranking satu maka yang lainnya akan menjadi ranking kedua. Seisi auditorium tertawa. Suasana resmi mencair dan menghangat.
Layar besar di depan menampilkan gambar Pak Dar dengan latar gedung sekolah SMEA Sasmita Jaya. Waktu itu gedung SMEAnya masih menumpang tanah orang. Tapi lihatlah Unpam sekarang, dengan mahasiswa yang sudah mencapai puluhan ribu, gedung kampus yang cukup bagus, bahkan sedang dibangun kampus II di daerah Viktor. Unpam sedang berlari mencapai tujuannya mewujudkan suatu sarana pendidikan yang murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa melupakan kualitas dari pendidikan itu sendiri.
Melihat Pak Dar bertutur di depan podium, ingatanku melayang ke almarhum papa….Ah, seandainya Papa masih hidup….kuberikan semua kebanggaan ini untuknya, bahwa anaknya yang setua ini tapi masih mau belajar.
Selanjutnya giliran Rektor H. Dayat Hidayat memberikan kuliah umum sebagai bekal masuk ke dunia kerja. Sekalipun sudah lulus, begitu pesannya jangan pernah melupakan asal usul kita. “Unpam biarpun universitas yang murah tapi bukan murahan. Alumni Unpam mampu bersaing dan memberikan potensi SDM yang tidak ketinggalan dibandingkan universitas yang  lebih dulu ada.”
Aku menatap sekeliling. Kucari wajah suami dan mamaku di antara kerumunan orang. Tatapanku kadang menemukan tatap-tatap lain yang mungkin sama mencari sosok yang mereka kenal. Aku tersenyum dan merekapun tersenyum. Auditorium penuh sesak. Warna hitam mendominasi dengan selempang yang berwarna warni menandakan asal program studi masing-masing. Aku sendiri berselempang warna kuning dari program studi Akuntansi S1, dan cukup banyak kulihat warna kuning di antara warna-warni lainnya.  Di atas balkon kutemui wajah Harry. Kebetulan dia sedang menatapku. Kuberikan senyum manis untuknya. Terimakasih sayang, kau berikan kesempatan ini untukku. Kesempatan yang semestinya diberikan kedua orang tuaku yang dengan keterbatasan tidak dapat diberikan. Maaf mama papa bukan aku menyesali dan menyalahkan kalian, tetapi keerhasilan menyelesaikan kuliah ini membuat terimakasihku pada Harry bertambah. Dan di sebelahnya kulihat wajah ayu mamaku, juga menyungging senyum. Kadang mama juga merasa bersalah, karena tidak dapat menguliahkanku. Begitu mama pernah bercerita. Tak mengapa Mama, lihatlah kini putrimu dapat meraihnya.


Tiba giliran Wakil Rektor II, Subarto membacakan siapa-siapa yang berhak menyandang gelar lulusan terbaik. Detik-detik melambat. Suara Subarto menjadi seperti bergaung waktu menyebut namaku sebagai lulusan terbaik prodi Akuntansi Wisuda XIV tahun 2014. Aku maju. Sayup kudengar  gemuruh tepuk tangan teman-teman wisudawan. Rasa haru begitu hangat. Kalau tak kuingat begitu banyak pasang mata menatap, dan kamera mengarah kami para wisudawan untuk menampilkannya pada layar besar, mungkin sudah runtuh bedeng air mataku. Sekali lagi teringat almarhum papa. Kami berfoto dan entah secara kebetulan Pak Rektor memilih berdiri di sebelahku.
Piagam itu hidup dalam sejarahku. Di dalamnya terukir masa-masa manis persahabatan, senda gurau, sekaligus masa-masa sedih. Masa-masa berat perjuangan menghafal, memahami rumus-rumus bagi otak yang sudah lama dilenakan irama hidup ibu rumah tangga  menjadi sesuatu yang memang berharga untuk dilakukan. Perjuangan menulis skripsi diperberat dengan hilangnya laptop. Data-data yang belum sempat dibackup termasuk data skripsi ikut raib bersamanya. Malam-malam lemburku bercanda dan menggelitiki keypad , membolak balik buku, semua  terlunasi. Piagam ini adalah titik akhir sekaligus titik awal perjuanganku seterusnya.          
                                                  

Pamulang, 08 Agustus 2016
Thanks to Budi S. untuk ilmu menulisnya....